Thursday, October 4, 2018

bab 3 Teknik-Teknik Enkripsi dan Dekripsi Data


Mata Kuliah : Keamanan Sistem
Teknik-Teknik Enkripsi dan Dekripsi
Dosen :  KURNIAWAN B. PRIANTO,SKOM.,SH.,MM
Rani Aafiyah (15115656) 4KA23

Bab 3 
Materi :
             1. Contoh Aplikasi untuk Enkripsi dan Dekripsi
             2. Contoh Penerapan pada Stand Alone maupun Jaringan

Menggunakan Teknik Enkripsi dan Dekripsi pada Dokumen Teks
PENDAHULUAN 
     Keamanan dan kerahasiaan data merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam sistem informasi pada saat ini. Munculnya teknologi internet dan multimedia telah mendorong berbagai macam usaha untuk melindungi, mengamankan, danmenyembunyikan data pada file digital dari pihak-pihak yang tidak mempunyai otoritas untuk mengakses file-file tersebut. Salah satu usaha untuk mengamankan data daninformasi diantaranya denganmenggunakan kriptografi. Berbagaimacam algoritma kriptografi dapat diimplementasikan untuk mewujudkan sistem keamanan data. Diantaranya yaitu algoritma kriptografi Rivest Shamir Adleman (RSA) (Rakhman, 2015). Algoritma RSA dibuat oleh tiga orang peneliti dari MIT (Massachussets Institute of Technology) pada tahun 1976, yaitu Ron Rivest, Adi Shamir dan Leonard Adleman. RSA adalah salah satu teknik kriptografi dimana kunci untuk melakukan enkripsi berbeda dengan kunci untuk melakukan dekripsi. Kunci untuk melakukan enkripsi disebut sebagai kunci publik, sedangkankunci untuk melakukan dekripsi disebut sebagai kunci privat. (Rahajoeningroem, 2015). Adapun penelitian terkait sebelumnya membahas tentang Pengujian Sistem Enkripsi-Dekripsi Dengan Metode RSA untuk Pengamanan Dokumen (Supriyono, 2008). Selanjutnya penelitian terkait tentang Aplikasi Pengaman Data Menggunakan Algoritma RSA (Rivest-Shamir-Adleman) dilakukan oleh (Mujiarto, 2012). Pada penelitian kali ini membahas tentang pengamanan dokumen berbasis web. Dengan menggunakan metodemetode yang ada pada kriptografi. Penelitian kali ini menggunakan metode RSA. Metode RSA termasuk ke dalam jenis algoritma asimetris. Proses enkripsi dokumen dilakukan pada saat dokumen tersebut dikirim untuk mengamankan file agar tidak dapat terbaca oleh orang yang tidak berhak mengakses file tersebut . RSA yang mempunyai dua kunci yang berbeda, disebut pasangan kunci (key pair) untuk proses enkripsi dan dekripsi.Kuncikunci yang ada pada pasangan kunci mempunyai hubungan secara matematis, tetapi tidak dapat dilihat secara komputasi untuk mendeduksi kunci yang satu ke pasangannya. Algoritma ini disebutkunci publik, karena kunci enkripsi tidak bersifat rahasia. Orang-orang dapat menggunakan kunci publik ini, tapi hanya orang yang mempunyai kunci privat sajalah yang bisa mendekripsi data tersebut (Kurniawan, 2011).
 TINJAUAN PUSTAKA 
     Algoritma kriptografi dibagi menjadi 2 macam yaitu Algoritma Simetris dan Algoritma Asimetris. Dimana algoritma simetris menggunakan satu kunci untuk proses enkripsi dan dekripsinya. Sedangkan Algoritma Asimetris menggunakan dua kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan dekripsinya. Dimana algoritma. Lalu algoritma asimetrismenggunakan kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan dekripsinya, yaitu kunci umum (Public key) yang digunakan proses enkripsi yaitu perubahan data text asli (Plaintext) menjadi text rahasia (Ciphertext) yang sifatnya tidak rahasia.
 KEAMANAN RSA
     Keamanan dari sistem kriptografi RSA adalah didasari oleh dua problem matematika yaitu masalah dalam faktorisasi bilangan berjumlah banyak. Dan masalah dari RSA, yaitu mencari modulo akar e n dari sebuah bilangan komposit (yang faktor-faktornya tidak diketahui proses dekripsi penuh dari sebuah ciphertext RSA dianggap sesuatu hal yang tidak mudah karena kedua masalah ini diasumsikan sulit. Permasalahan dari RSA didefinisikan sebagai tugas untuk mencari suatu akar modulo e n (e pangkat ke n)dari bilangan komposit (. Mengembalikan suatu nilai m dimana m e=c mod n, (e, n ) adalah kunci publik RSA dan c adalah ciphertext RSA. Metode pendekatan yang diyakini dapat menyelesaikan masalah RSA saat ini adalah memfaktor dari modulus n. Dengan kemampuan untuk mengembalikan faktor yang merupakan bilangan prima, sebuah serangan dapat menghitung eksponen rahasia dari d dan dari kunci publik (e, n), lalu mendekripsi c menggunakan prosedur standar. Untuk menyelesaikannya, penyerang . Memfaktor nilai n menjadi p dan q, lalu menghitung (p-1)(q-1) yang dapat menghasilkan nilai d dan e.
  ALGORITMA RSA
 1. Menentukan 2 bilangan prima, dengan nama p dan q. Misal nilai p = 51 dan q = 5. (1)
 2. Menghitung nilai modulus (n) : (2) n = p×q n = 51 × 5 n = 255
 3. Menghitung nilai totient n : (n) = (p-1) × (q-1) (3) (n) = (51-1) × (5-1) (n) = (50 ×4) (n) = 200
4. Menentukan nilai e dengan syarat gcd (e, (n)) = 1 (4) Dimana e = bilangan prima, dan 1 <e< (n). Pilih kunci publik e adalah 7 (relatif prima terhadap 200)
5. Mencari nilai deciphering exponent (d), maka : (5) d = (1 + (k x (n)) / e) d = (1 + (k x 200)) / 7 Nilai k merupakan sembarang angka untuk pencarian hingga dihasilkan suatu nilai integer atau bulat. Dengan mencoba nilai k = 1,2,..., hingga diperoleh nilai d yang bulat, yaitu d = 343.
6. Dari langkah-langkah yang sudah diuraikan sebelumnya, maka nilai n, e, dan d telah didapatkan sehingga pasangan kunci telah terbentuk. Pasangan kunci publik (n, e) = (255, 7) Pasangan kunci rahasia (n, d) = (255, 343)
Plaintext : polsri
p=112 o=111 l=108 s=115 r=114 i=105
Enkripsi RSA
= 1127 mod 255 = 73 = pada tabel ascii I
=1117 mod 255 = 36 = pada tabel ascii #
 = 1087 mod 255 = 252 = pada tabel ascii w
 =1157 mod 255 = 55 = pada tabel ascii n
=1147 mod 255 = 24= pada tabel ascii (cancel)
=1157 mod 255 = 45 = pada tabel ascii
 Dekripsi RSA
=73343 mod 255 = 112 = pada tabel ascii p
=36343mod 255 = 36 = pada tabel ascii o
= 252343 mod 255 = 252 = pada tabel ascii l
=55343 mod 255 = 55= pada tabel ascii s
=24343 mod 255 = 24= pada tabel ascii r
=45343 mod 255 =45= pada tabel ascii i

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian pada aplikasi pengamanan dokumen menggunakan metode RSA. Jenis file yang akan di enkripsi ialah doc,docx,pdf,ppt, dan xls. Pengujian sistem dilakukan untuk mengetahui apakah penelitian ini telah memenuhi tujuan untuk mengamankan dokumen menggunakan metode RSA . Pengujian sistem secara menyeluruh yaitu pengujian sistem pada aplikasi yang akan digunakan oleh admin/dosen/mahasiswa, dari segi tampilan dan segi proses yang terjadi di setiap halaman dan selanjutnya melakukan proses enkripsi dan dekripsi file dengan menerapkan algoritma kriptografi RSA. Plaintext yang digunakan sebagai bahan unjuk kerja adalah “polsri” dengan kunci Pasangan kunci publik (n, e) = (255, 7)Pasangan kunci rahasia (n, d) = (255, 343)

Enkripsi Untuk Keamanan Data Pada Jaringan

Salah satu hal yang penting dalam komunikasi menggunakan computer untuk menjamin kerahasian data adalah enkripsi. Enkripsi dalah sebuah proses yang melakukan perubahan sebuah kode dari yang bisa dimengerti menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca). Enkripsi dapat diartikan sebagai kode atau chiper. Sebuah sistem pengkodean menggunakan suatu table atau kamus yang telah didefinisikan untuk mengganti kata dari informasi atau yang merupakan bagian dari informasi yang dikirim. Sebuah chiper menggunakan suatu algoritma yang dapat mengkodekan semua aliran data (stream) bit dari sebuah pesan menjadi cryptogram yang tidak dimengerti (unitelligible). Karena teknik cipher merupakan suatu sistem yang telah siap untuk di automasi, maka teknik ini digunakan dalam sistem keamanan komputer dan network.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas berbagai macam teknik enkripsi yang biasa digunakan dalam sistem sekuriti dari sistem komputer dan network.

A. Enkripsi Konvensional.

Proses enkripsi ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks ->Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
|———————-Kunci (Key) ——————–|

Informasi asal yang dapat di mengerti di simbolkan oleh Plain teks, yang kemudian oleh algoritma Enkripsi diterjemahkan menjadi informasi yang tidak dapat untuk dimengerti yang disimbolkan dengan cipher teks. Proses enkripsi terdiri dari dua yaitu algoritma dan kunci. Kunci biasanya merupakan suatu string bit yang pendek yang mengontrol algoritma. Algoritma enkripsi akan menghasilkan hasil yang berbeda tergantung pada kunci yang digunakan. Mengubah kunci dari enkripsi akan mengubah output dari algortima enkripsi.

Sekali cipher teks telah dihasilkan, kemudian ditransmisikan. Pada bagian penerima selanjutnya cipher teks yang diterima diubah kembali ke plain teks dengan algoritma dan dan kunci yang sama.

Keamanan dari enkripsi konvensional bergantung pada beberapa faktor. Pertama algoritma enkripsi harus cukup kuat sehingga menjadikan sangat sulit untuk mendekripsi cipher teks dengan dasar cipher teks tersebut. Lebih jauh dari itu keamanan dari algoritma enkripsi konvensional bergantung pada kerahasian dari kuncinya bukan algoritmanya. Yaitu dengan asumsi bahwa adalah sangat tidak praktis untuk mendekripsikan informasi dengan dasar cipher teks dan pengetahuan tentang algoritma diskripsi / enkripsi. Atau dengan kata lain, kita tidak perlu menjaga kerahasiaan dari algoritma tetapi cukup dengan kerahasiaan kuncinya.

Manfaat dari konvensional enkripsi algoritma adalah kemudahan dalam penggunaan secara luas. Dengan kenyataan bahwa algoritma ini tidak perlu dijaga kerahasiaannya dengan maksud bahwa pembuat dapat dan mampu membuat suatu implementasi dalam bentuk chip dengan harga yang murah. Chips ini dapat tersedia secara luas dan disediakan pula untuk beberapa jenis produk. Dengan penggunaan dari enkripsi konvensional, prinsip keamanan adalah menjadi menjaga keamanan dari kunci.

Model enkripsi yang digunakan secara luas adalah model yang didasarkan pada data encrytion standard (DES), yang diambil oleh Biro standart nasional US pada tahun 1977. Untuk DES data di enkripsi dalam 64 bit block dengan menggunakan 56 bit kunci. Dengan menggunakan kunci ini, 64 data input diubah dengan suatu urutan dari metode menjadi 64 bit output. Proses yang yang sama dengan kunci yang sama digunakan untuk mengubah kembali enkripsi.

B. Enkripsi Public-Key

Salah satu yang menjadi kesulitan utama dari enkripsi konvensional adalah perlunya untuk mendistribusikan kunci yang digunakan dalam keadaan aman. Sebuah cara yang tepat telah diketemukan untuk mengatasi kelemahan ini dengan suatu model enkripsi yang secara mengejutkan tidak memerlukan sebuah kunci untuk didistribusikan. Metode ini dikenal dengan nama enkripsi public-key dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976.

Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks -> Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
Private Key B —-|
|———————-Kunci (Key) ——————–|


Algoritma tersebut seperti yang digambarkan pada gambar diatas. Untuk enkripsi konvensional, kunci yang digunakan pada prosen enkripsi dan dekripsi adalah sama. Tetapi ini bukanlah kondisi sesungguhnya yang diperlukan. Namun adalah dimungkinkan untuk membangun suatu algoritma yang menggunakan satu kunci untuk enkripsi dan pasangannya, kunci yang berbeda, untuk dekripsi. Lebih jauh lagi adalah mungkin untuk menciptakan suatu algoritma yang mana pengetahuan tentang algoritma enkripsi ditambah kunci enkripsi tidak cukup untuk menentukan kunci dekrispi. Sehingga teknik berikut ini akan dapat dilakukan :

1. Masing – masing dari sistem dalam network akan menciptakan sepasang kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dari informasi yang diterima.
2. Masing – masing dari sistem akan menerbitkan kunci enkripsinya ( public key ) dengan memasang dalam register umum atau file, sedang pasangannya tetap dijaga sebagai kunci pribadi ( private key ).
3. Jika A ingin mengisim pesan kepada B, maka A akan mengenkripsi pesannya dengan kunci publik dari B.
4. Ketika B menerima pesan dari A maka B akan menggunakan kunci privatenya untuk mendeskripsi pesan dari A.

Seperti yang kita lihat, public-key memecahkan masalah pendistribusian karena tidak diperlukan suatu kunci untuk didistribusikan. Semua partisipan mempunyai akses ke kunci publik ( public key ) dan kunci pribadi dihasilkan secara lokal oleh setiap partisipan sehingga tidak perlu untuk didistribusikan. Selama sistem mengontrol masing – masing private key dengan baik maka komunikasi menjadi komunikasi yang aman. Setiap sistem mengubah private key pasangannya public key akan menggantikan public key yang lama. Yang menjadi kelemahan dari metode enkripsi publik key adalah jika dibandingkan dengan metode enkripsi konvensional algoritma enkripsi ini mempunyai algoritma yang lebih komplek. Sehingga untuk perbandingan ukuran dan harga dari hardware, metode publik key akan menghasilkan performance yang lebih rendah. Tabel berikut ini akan memperlihatkan berbagai aspek penting dari enkripsi konvensional dan public key.

Enkripsi Konvensional
Yang dibutuhkan untuk bekerja :

1. Algoritma yang sama dengan kunci yang sama dapat digunakan untuk proses dekripsi – enkripsi.
2. Pengirim dan penerima harus membagi algoritma dan kunci yang sama.

Yang dibutuhkan untuk keamanan :

1. Kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunc.

Enkripsi Public Key
Yang dibutuhkan untuk bekerja :

1. Algoritma yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dengan sepasang kunci, satu untuk enkripsi satu untuk dekripsi.
2. Pengirim dan penerima harus mempunyai sepasang kunci yang cocok.

Yang dibutuhkan untuk keamanan :

1. Salah satu dari kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunci.



No comments:

Post a Comment