AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI
|
PERBANDINGAN FRAMEWORK AUDIT INTERNAL
|
KELOMPOK 3
|
4KA23
|
Sunday, December 2, 2018
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (TUGAS 3)
Monday, November 5, 2018
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (tugas 2)
materi :
Link:
https://docs.google.com/document/d/1MPMoGKAyhmOMZdo0NF4G0JLFGO1KWnps7HlqLsVZAVI/edit?usp=sharing
COBIT
(Control Objective for Information and Related Technology)
Link:
https://docs.google.com/document/d/1MPMoGKAyhmOMZdo0NF4G0JLFGO1KWnps7HlqLsVZAVI/edit?usp=sharing
Wednesday, October 24, 2018
TUGAS 4 (KEAMANAN SISTEM)
MATERI TUGAS 4 MATA KULIAH KEAMANAN SISTEM
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD FILE
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD FILE
Tuesday, October 16, 2018
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI
Tugas Kelompok :
Makalah Kelompok 3Tugas Individu :
Standar dan Panduan Audit Sistem Informasi
Standar Audit Standar Audit SI tidak lepas dari standar professional seorang auditor SI. Standar professional adalah ukuran mutu pelaksanaan kegiatan profesi yang menjadi pedoman bagi para anggota profesi dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. Standar profesional adalah batasan kemampuan (knowledge, technical skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang aturan-aturannya dibuat oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Beberapa standar audit SI yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:· ISACA : IT Standards, Guidelines, and Tools and Techniques for Audit and Assurance and Control Professionals
· IIA : International Professional Practices Framework / IPPF
· IASII : Standar Audit Sistem Informasi
· BI : Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank / SPFAIB
· BPPT : Framework, Kode Etik & Standar, Pedoman Umum Audit Teknologi
1. ISACA
ISACA adalah suatu organisasi profesi internasional di bidang tata kelola teknologi informasi yang didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1967. Awalnya dikenal dengan nama lengkap Information Systems Audit and Control Association, saat ini ISACA hanya menggunakan akronimnya untuk merefleksikan cakupan luasnya di bidang tata kelola teknologi informasi. ISACA telah memiliki kurang lebih 70.000 anggota yang tersebar di 140 negara. Anggota ISACA terdiri dari antara lain auditor sistem informasi, konsultan, pengajar, profesional keamanan sistem informasi, pembuat perundangan, CIO, serta auditor internal. Jaringan ISACA terdiri dari sekitar 170 cabang yang berada di lebih dari 60 negara, termasuk di Indonesia.
2 . IIA COSO
Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission, atau disingkat COSO, adalah suatu inisiatif dari sektor swasta yang dibentuk pada tahun 1985. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan penggelapan laporan keuangan dan membuat rekomendasi untuk mengurangi kejadian tersebut. COSO telah menyusun suatu definisi umum untuk pengendalian, standar, dan kriteria internal yang dapat digunakan perusahaan untuk menilai sistem pengendalian mereka. COSO disponsori dan didanai oleh 5 asosiasi dan lembaga akuntansi profesional: American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), American Accounting Association(AAA), Financial Executives Institute (FEI), The Institute of Internal Auditors (IIA) danThe Institute of Management Accountants (IMA).
3. ISO 1799ISO / IEC 17799: 2005 menetapkan pedoman dan prinsip umum untuk memulai, menerapkan, memelihara, dan memperbaiki manajemen keamanan informasi dalam sebuah organisasi. Tujuan yang diuraikan memberikan panduan umum mengenai tujuan umum manajemen keamanan informasi yang diterima secara umum. ISO / IEC 17799: 2005 berisi praktik terbaik pengendalian dan pengendalian pengendalian di bidang pengelolaan keamanan informasi berikut:
- pengorganisasian keamanan informasi;
- manajemen aset;
- keamanan sumber daya manusia;
- keamanan fisik dan lingkungan;
- komunikasi dan manajemen operasi;
- kontrol akses;
- akuisisi sistem informasi, pengembangan dan pemeliharaan;
- manajemen insiden keamanan informasi;
- manajemen kontinuitas bisnis;
- pemenuhan
Referensi : http://ariyantihumala-ariyanti.blogspot.com/2017/10/standar-dan-panduan-untuk-audit-sistem.html
http://bayutry.blogspot.com/2017/10/standar-dan-panduan-audit-sistem.html
Tugas 3 (Keamanan Sistem)
Berikut ini link untuk tugas 3 mata kuliah Keamanan Sistem
Klik disini untuk mengunduh file pdf
Klik disini untuk mengunduh file pdf
Sunday, October 7, 2018
Klik here to download PDF File
Tugas 2 Keamanan Sistem
Klik here to download DOC File
Tugas 2 Keamanan sistem
Tugas 2 Keamanan Sistem
Klik here to download DOC File
Tugas 2 Keamanan sistem
Thursday, October 4, 2018
bab 3 Teknik-Teknik Enkripsi dan Dekripsi Data
|
Mata Kuliah : Keamanan Sistem
Teknik-Teknik Enkripsi dan Dekripsi
|
|
Dosen
: KURNIAWAN B. PRIANTO,SKOM.,SH.,MM
|
|
Rani Aafiyah (15115656) 4KA23
|
Bab 3
Materi :
1. Contoh Aplikasi untuk Enkripsi dan Dekripsi
2. Contoh Penerapan pada Stand Alone maupun Jaringan
Menggunakan Teknik Enkripsi dan Dekripsi pada Dokumen Teks
PENDAHULUAN
Keamanan dan kerahasiaan data merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam sistem informasi pada saat ini. Munculnya teknologi internet dan multimedia telah mendorong berbagai macam usaha untuk melindungi, mengamankan, danmenyembunyikan data pada file digital dari pihak-pihak yang tidak mempunyai otoritas untuk mengakses file-file tersebut. Salah satu usaha untuk mengamankan data daninformasi diantaranya denganmenggunakan kriptografi. Berbagaimacam algoritma kriptografi dapat diimplementasikan untuk mewujudkan sistem keamanan data. Diantaranya yaitu algoritma kriptografi Rivest Shamir Adleman (RSA) (Rakhman, 2015). Algoritma RSA dibuat oleh tiga orang peneliti dari MIT (Massachussets Institute of Technology) pada tahun 1976, yaitu Ron Rivest, Adi Shamir dan Leonard Adleman. RSA adalah salah satu teknik kriptografi dimana kunci untuk melakukan enkripsi berbeda dengan kunci untuk melakukan dekripsi. Kunci untuk melakukan enkripsi disebut sebagai kunci publik, sedangkankunci untuk melakukan dekripsi disebut sebagai kunci privat. (Rahajoeningroem, 2015). Adapun penelitian terkait sebelumnya membahas tentang Pengujian Sistem Enkripsi-Dekripsi Dengan Metode RSA untuk Pengamanan Dokumen (Supriyono, 2008). Selanjutnya penelitian terkait tentang Aplikasi Pengaman Data Menggunakan Algoritma RSA (Rivest-Shamir-Adleman) dilakukan oleh (Mujiarto, 2012). Pada penelitian kali ini membahas tentang pengamanan dokumen berbasis web. Dengan menggunakan metodemetode yang ada pada kriptografi. Penelitian kali ini menggunakan metode RSA. Metode RSA termasuk ke dalam jenis algoritma asimetris. Proses enkripsi dokumen dilakukan pada saat dokumen tersebut dikirim untuk mengamankan file agar tidak dapat terbaca oleh orang yang tidak berhak mengakses file tersebut . RSA yang mempunyai dua kunci yang berbeda, disebut pasangan kunci (key pair) untuk proses enkripsi dan dekripsi.Kuncikunci yang ada pada pasangan kunci mempunyai hubungan secara matematis, tetapi tidak dapat dilihat secara komputasi untuk mendeduksi kunci yang satu ke pasangannya. Algoritma ini disebutkunci publik, karena kunci enkripsi tidak bersifat rahasia. Orang-orang dapat menggunakan kunci publik ini, tapi hanya orang yang mempunyai kunci privat sajalah yang bisa mendekripsi data tersebut (Kurniawan, 2011).
TINJAUAN PUSTAKA
Algoritma kriptografi dibagi menjadi 2 macam yaitu Algoritma Simetris dan Algoritma Asimetris. Dimana algoritma simetris menggunakan satu kunci untuk proses enkripsi dan dekripsinya. Sedangkan Algoritma Asimetris menggunakan dua kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan dekripsinya. Dimana algoritma. Lalu algoritma asimetrismenggunakan kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan dekripsinya, yaitu kunci umum (Public key) yang digunakan proses enkripsi yaitu perubahan data text asli (Plaintext) menjadi text rahasia (Ciphertext) yang sifatnya tidak rahasia.
KEAMANAN RSA
Keamanan dari sistem kriptografi RSA adalah didasari oleh dua problem matematika yaitu masalah dalam faktorisasi bilangan berjumlah banyak. Dan masalah dari RSA, yaitu mencari modulo akar e n dari sebuah bilangan komposit (yang faktor-faktornya tidak diketahui proses dekripsi penuh dari sebuah ciphertext RSA dianggap sesuatu hal yang tidak mudah karena kedua masalah ini diasumsikan sulit. Permasalahan dari RSA didefinisikan sebagai tugas untuk mencari suatu akar modulo e n (e pangkat ke n)dari bilangan komposit (. Mengembalikan suatu nilai m dimana m e=c mod n, (e, n ) adalah kunci publik RSA dan c adalah ciphertext RSA. Metode pendekatan yang diyakini dapat menyelesaikan masalah RSA saat ini adalah memfaktor dari modulus n. Dengan kemampuan untuk mengembalikan faktor yang merupakan bilangan prima, sebuah serangan dapat menghitung eksponen rahasia dari d dan dari kunci publik (e, n), lalu mendekripsi c menggunakan prosedur standar. Untuk menyelesaikannya, penyerang . Memfaktor nilai n menjadi p dan q, lalu menghitung (p-1)(q-1) yang dapat menghasilkan nilai d dan e.
ALGORITMA RSA
1. Menentukan 2 bilangan prima, dengan nama p dan q. Misal nilai p = 51 dan q = 5. (1)
2. Menghitung nilai modulus (n) : (2) n = p×q n = 51 × 5 n = 255
3. Menghitung nilai totient n : (n) = (p-1) × (q-1) (3) (n) = (51-1) × (5-1) (n) = (50 ×4) (n) = 200
4. Menentukan nilai e dengan syarat gcd (e, (n)) = 1 (4) Dimana e = bilangan prima, dan 1 <e< (n). Pilih kunci publik e adalah 7 (relatif prima terhadap 200)
5. Mencari nilai deciphering exponent (d), maka : (5) d = (1 + (k x (n)) / e) d = (1 + (k x 200)) / 7 Nilai k merupakan sembarang angka untuk pencarian hingga dihasilkan suatu nilai integer atau bulat. Dengan mencoba nilai k = 1,2,..., hingga diperoleh nilai d yang bulat, yaitu d = 343.
6. Dari langkah-langkah yang sudah diuraikan sebelumnya, maka nilai n, e, dan d telah didapatkan sehingga pasangan kunci telah terbentuk. Pasangan kunci publik (n, e) = (255, 7) Pasangan kunci rahasia (n, d) = (255, 343)
Plaintext : polsri
p=112 o=111 l=108 s=115 r=114 i=105
Enkripsi RSA
= 1127 mod 255 = 73 = pada tabel ascii I
=1117 mod 255 = 36 = pada tabel ascii #
= 1087 mod 255 = 252 = pada tabel ascii w
=1157 mod 255 = 55 = pada tabel ascii n
=1147 mod 255 = 24= pada tabel ascii (cancel)
=1157 mod 255 = 45 = pada tabel ascii
Dekripsi RSA
=73343 mod 255 = 112 = pada tabel ascii p
=36343mod 255 = 36 = pada tabel ascii o
= 252343 mod 255 = 252 = pada tabel ascii l
=55343 mod 255 = 55= pada tabel ascii s
=24343 mod 255 = 24= pada tabel ascii r
=45343 mod 255 =45= pada tabel ascii i
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian pada aplikasi pengamanan dokumen menggunakan metode RSA. Jenis file yang akan di enkripsi ialah doc,docx,pdf,ppt, dan xls. Pengujian sistem dilakukan untuk mengetahui apakah penelitian ini telah memenuhi tujuan untuk mengamankan dokumen menggunakan metode RSA . Pengujian sistem secara menyeluruh yaitu pengujian sistem pada aplikasi yang akan digunakan oleh admin/dosen/mahasiswa, dari segi tampilan dan segi proses yang terjadi di setiap halaman dan selanjutnya melakukan proses enkripsi dan dekripsi file dengan menerapkan algoritma kriptografi RSA. Plaintext yang digunakan sebagai bahan unjuk kerja adalah “polsri” dengan kunci Pasangan kunci publik (n, e) = (255, 7)Pasangan kunci rahasia (n, d) = (255, 343)
Enkripsi Untuk Keamanan Data Pada Jaringan
Salah satu hal yang penting dalam komunikasi menggunakan computer untuk menjamin kerahasian data adalah enkripsi. Enkripsi dalah sebuah proses yang melakukan perubahan sebuah kode dari yang bisa dimengerti menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca). Enkripsi dapat diartikan sebagai kode atau chiper. Sebuah sistem pengkodean menggunakan suatu table atau kamus yang telah didefinisikan untuk mengganti kata dari informasi atau yang merupakan bagian dari informasi yang dikirim. Sebuah chiper menggunakan suatu algoritma yang dapat mengkodekan semua aliran data (stream) bit dari sebuah pesan menjadi cryptogram yang tidak dimengerti (unitelligible). Karena teknik cipher merupakan suatu sistem yang telah siap untuk di automasi, maka teknik ini digunakan dalam sistem keamanan komputer dan network.
Pada bagian selanjutnya kita akan membahas berbagai macam teknik enkripsi yang biasa digunakan dalam sistem sekuriti dari sistem komputer dan network.
A. Enkripsi Konvensional.
Proses enkripsi ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks ->Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
|———————-Kunci (Key) ——————–|
Informasi asal yang dapat di mengerti di simbolkan oleh Plain teks, yang kemudian oleh algoritma Enkripsi diterjemahkan menjadi informasi yang tidak dapat untuk dimengerti yang disimbolkan dengan cipher teks. Proses enkripsi terdiri dari dua yaitu algoritma dan kunci. Kunci biasanya merupakan suatu string bit yang pendek yang mengontrol algoritma. Algoritma enkripsi akan menghasilkan hasil yang berbeda tergantung pada kunci yang digunakan. Mengubah kunci dari enkripsi akan mengubah output dari algortima enkripsi.
Sekali cipher teks telah dihasilkan, kemudian ditransmisikan. Pada bagian penerima selanjutnya cipher teks yang diterima diubah kembali ke plain teks dengan algoritma dan dan kunci yang sama.
Keamanan dari enkripsi konvensional bergantung pada beberapa faktor. Pertama algoritma enkripsi harus cukup kuat sehingga menjadikan sangat sulit untuk mendekripsi cipher teks dengan dasar cipher teks tersebut. Lebih jauh dari itu keamanan dari algoritma enkripsi konvensional bergantung pada kerahasian dari kuncinya bukan algoritmanya. Yaitu dengan asumsi bahwa adalah sangat tidak praktis untuk mendekripsikan informasi dengan dasar cipher teks dan pengetahuan tentang algoritma diskripsi / enkripsi. Atau dengan kata lain, kita tidak perlu menjaga kerahasiaan dari algoritma tetapi cukup dengan kerahasiaan kuncinya.
Manfaat dari konvensional enkripsi algoritma adalah kemudahan dalam penggunaan secara luas. Dengan kenyataan bahwa algoritma ini tidak perlu dijaga kerahasiaannya dengan maksud bahwa pembuat dapat dan mampu membuat suatu implementasi dalam bentuk chip dengan harga yang murah. Chips ini dapat tersedia secara luas dan disediakan pula untuk beberapa jenis produk. Dengan penggunaan dari enkripsi konvensional, prinsip keamanan adalah menjadi menjaga keamanan dari kunci.
Model enkripsi yang digunakan secara luas adalah model yang didasarkan pada data encrytion standard (DES), yang diambil oleh Biro standart nasional US pada tahun 1977. Untuk DES data di enkripsi dalam 64 bit block dengan menggunakan 56 bit kunci. Dengan menggunakan kunci ini, 64 data input diubah dengan suatu urutan dari metode menjadi 64 bit output. Proses yang yang sama dengan kunci yang sama digunakan untuk mengubah kembali enkripsi.
B. Enkripsi Public-Key
Salah satu yang menjadi kesulitan utama dari enkripsi konvensional adalah perlunya untuk mendistribusikan kunci yang digunakan dalam keadaan aman. Sebuah cara yang tepat telah diketemukan untuk mengatasi kelemahan ini dengan suatu model enkripsi yang secara mengejutkan tidak memerlukan sebuah kunci untuk didistribusikan. Metode ini dikenal dengan nama enkripsi public-key dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976.
Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks -> Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
Private Key B —-|
|———————-Kunci (Key) ——————–|
Algoritma tersebut seperti yang digambarkan pada gambar diatas. Untuk enkripsi konvensional, kunci yang digunakan pada prosen enkripsi dan dekripsi adalah sama. Tetapi ini bukanlah kondisi sesungguhnya yang diperlukan. Namun adalah dimungkinkan untuk membangun suatu algoritma yang menggunakan satu kunci untuk enkripsi dan pasangannya, kunci yang berbeda, untuk dekripsi. Lebih jauh lagi adalah mungkin untuk menciptakan suatu algoritma yang mana pengetahuan tentang algoritma enkripsi ditambah kunci enkripsi tidak cukup untuk menentukan kunci dekrispi. Sehingga teknik berikut ini akan dapat dilakukan :
1. Masing – masing dari sistem dalam network akan menciptakan sepasang kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dari informasi yang diterima.
2. Masing – masing dari sistem akan menerbitkan kunci enkripsinya ( public key ) dengan memasang dalam register umum atau file, sedang pasangannya tetap dijaga sebagai kunci pribadi ( private key ).
3. Jika A ingin mengisim pesan kepada B, maka A akan mengenkripsi pesannya dengan kunci publik dari B.
4. Ketika B menerima pesan dari A maka B akan menggunakan kunci privatenya untuk mendeskripsi pesan dari A.
Seperti yang kita lihat, public-key memecahkan masalah pendistribusian karena tidak diperlukan suatu kunci untuk didistribusikan. Semua partisipan mempunyai akses ke kunci publik ( public key ) dan kunci pribadi dihasilkan secara lokal oleh setiap partisipan sehingga tidak perlu untuk didistribusikan. Selama sistem mengontrol masing – masing private key dengan baik maka komunikasi menjadi komunikasi yang aman. Setiap sistem mengubah private key pasangannya public key akan menggantikan public key yang lama. Yang menjadi kelemahan dari metode enkripsi publik key adalah jika dibandingkan dengan metode enkripsi konvensional algoritma enkripsi ini mempunyai algoritma yang lebih komplek. Sehingga untuk perbandingan ukuran dan harga dari hardware, metode publik key akan menghasilkan performance yang lebih rendah. Tabel berikut ini akan memperlihatkan berbagai aspek penting dari enkripsi konvensional dan public key.
Enkripsi Konvensional
Yang dibutuhkan untuk bekerja :
1. Algoritma yang sama dengan kunci yang sama dapat digunakan untuk proses dekripsi – enkripsi.
2. Pengirim dan penerima harus membagi algoritma dan kunci yang sama.
Yang dibutuhkan untuk keamanan :
1. Kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunc.
Enkripsi Public Key
Yang dibutuhkan untuk bekerja :
1. Algoritma yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dengan sepasang kunci, satu untuk enkripsi satu untuk dekripsi.
2. Pengirim dan penerima harus mempunyai sepasang kunci yang cocok.
Yang dibutuhkan untuk keamanan :
1. Salah satu dari kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunci.
Salah satu hal yang penting dalam komunikasi menggunakan computer untuk menjamin kerahasian data adalah enkripsi. Enkripsi dalah sebuah proses yang melakukan perubahan sebuah kode dari yang bisa dimengerti menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca). Enkripsi dapat diartikan sebagai kode atau chiper. Sebuah sistem pengkodean menggunakan suatu table atau kamus yang telah didefinisikan untuk mengganti kata dari informasi atau yang merupakan bagian dari informasi yang dikirim. Sebuah chiper menggunakan suatu algoritma yang dapat mengkodekan semua aliran data (stream) bit dari sebuah pesan menjadi cryptogram yang tidak dimengerti (unitelligible). Karena teknik cipher merupakan suatu sistem yang telah siap untuk di automasi, maka teknik ini digunakan dalam sistem keamanan komputer dan network.
Pada bagian selanjutnya kita akan membahas berbagai macam teknik enkripsi yang biasa digunakan dalam sistem sekuriti dari sistem komputer dan network.
A. Enkripsi Konvensional.
Proses enkripsi ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks ->Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
|———————-Kunci (Key) ——————–|
Informasi asal yang dapat di mengerti di simbolkan oleh Plain teks, yang kemudian oleh algoritma Enkripsi diterjemahkan menjadi informasi yang tidak dapat untuk dimengerti yang disimbolkan dengan cipher teks. Proses enkripsi terdiri dari dua yaitu algoritma dan kunci. Kunci biasanya merupakan suatu string bit yang pendek yang mengontrol algoritma. Algoritma enkripsi akan menghasilkan hasil yang berbeda tergantung pada kunci yang digunakan. Mengubah kunci dari enkripsi akan mengubah output dari algortima enkripsi.
Sekali cipher teks telah dihasilkan, kemudian ditransmisikan. Pada bagian penerima selanjutnya cipher teks yang diterima diubah kembali ke plain teks dengan algoritma dan dan kunci yang sama.
Keamanan dari enkripsi konvensional bergantung pada beberapa faktor. Pertama algoritma enkripsi harus cukup kuat sehingga menjadikan sangat sulit untuk mendekripsi cipher teks dengan dasar cipher teks tersebut. Lebih jauh dari itu keamanan dari algoritma enkripsi konvensional bergantung pada kerahasian dari kuncinya bukan algoritmanya. Yaitu dengan asumsi bahwa adalah sangat tidak praktis untuk mendekripsikan informasi dengan dasar cipher teks dan pengetahuan tentang algoritma diskripsi / enkripsi. Atau dengan kata lain, kita tidak perlu menjaga kerahasiaan dari algoritma tetapi cukup dengan kerahasiaan kuncinya.
Manfaat dari konvensional enkripsi algoritma adalah kemudahan dalam penggunaan secara luas. Dengan kenyataan bahwa algoritma ini tidak perlu dijaga kerahasiaannya dengan maksud bahwa pembuat dapat dan mampu membuat suatu implementasi dalam bentuk chip dengan harga yang murah. Chips ini dapat tersedia secara luas dan disediakan pula untuk beberapa jenis produk. Dengan penggunaan dari enkripsi konvensional, prinsip keamanan adalah menjadi menjaga keamanan dari kunci.
Model enkripsi yang digunakan secara luas adalah model yang didasarkan pada data encrytion standard (DES), yang diambil oleh Biro standart nasional US pada tahun 1977. Untuk DES data di enkripsi dalam 64 bit block dengan menggunakan 56 bit kunci. Dengan menggunakan kunci ini, 64 data input diubah dengan suatu urutan dari metode menjadi 64 bit output. Proses yang yang sama dengan kunci yang sama digunakan untuk mengubah kembali enkripsi.
B. Enkripsi Public-Key
Salah satu yang menjadi kesulitan utama dari enkripsi konvensional adalah perlunya untuk mendistribusikan kunci yang digunakan dalam keadaan aman. Sebuah cara yang tepat telah diketemukan untuk mengatasi kelemahan ini dengan suatu model enkripsi yang secara mengejutkan tidak memerlukan sebuah kunci untuk didistribusikan. Metode ini dikenal dengan nama enkripsi public-key dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976.
Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks -> Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
Private Key B —-|
|———————-Kunci (Key) ——————–|
Algoritma tersebut seperti yang digambarkan pada gambar diatas. Untuk enkripsi konvensional, kunci yang digunakan pada prosen enkripsi dan dekripsi adalah sama. Tetapi ini bukanlah kondisi sesungguhnya yang diperlukan. Namun adalah dimungkinkan untuk membangun suatu algoritma yang menggunakan satu kunci untuk enkripsi dan pasangannya, kunci yang berbeda, untuk dekripsi. Lebih jauh lagi adalah mungkin untuk menciptakan suatu algoritma yang mana pengetahuan tentang algoritma enkripsi ditambah kunci enkripsi tidak cukup untuk menentukan kunci dekrispi. Sehingga teknik berikut ini akan dapat dilakukan :
1. Masing – masing dari sistem dalam network akan menciptakan sepasang kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dari informasi yang diterima.
2. Masing – masing dari sistem akan menerbitkan kunci enkripsinya ( public key ) dengan memasang dalam register umum atau file, sedang pasangannya tetap dijaga sebagai kunci pribadi ( private key ).
3. Jika A ingin mengisim pesan kepada B, maka A akan mengenkripsi pesannya dengan kunci publik dari B.
4. Ketika B menerima pesan dari A maka B akan menggunakan kunci privatenya untuk mendeskripsi pesan dari A.
Seperti yang kita lihat, public-key memecahkan masalah pendistribusian karena tidak diperlukan suatu kunci untuk didistribusikan. Semua partisipan mempunyai akses ke kunci publik ( public key ) dan kunci pribadi dihasilkan secara lokal oleh setiap partisipan sehingga tidak perlu untuk didistribusikan. Selama sistem mengontrol masing – masing private key dengan baik maka komunikasi menjadi komunikasi yang aman. Setiap sistem mengubah private key pasangannya public key akan menggantikan public key yang lama. Yang menjadi kelemahan dari metode enkripsi publik key adalah jika dibandingkan dengan metode enkripsi konvensional algoritma enkripsi ini mempunyai algoritma yang lebih komplek. Sehingga untuk perbandingan ukuran dan harga dari hardware, metode publik key akan menghasilkan performance yang lebih rendah. Tabel berikut ini akan memperlihatkan berbagai aspek penting dari enkripsi konvensional dan public key.
Enkripsi Konvensional
Yang dibutuhkan untuk bekerja :
1. Algoritma yang sama dengan kunci yang sama dapat digunakan untuk proses dekripsi – enkripsi.
2. Pengirim dan penerima harus membagi algoritma dan kunci yang sama.
Yang dibutuhkan untuk keamanan :
1. Kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunc.
Enkripsi Public Key
Yang dibutuhkan untuk bekerja :
1. Algoritma yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi dengan sepasang kunci, satu untuk enkripsi satu untuk dekripsi.
2. Pengirim dan penerima harus mempunyai sepasang kunci yang cocok.
Yang dibutuhkan untuk keamanan :
1. Salah satu dari kunci harus dirahasiakan.
2. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah dienkripsi.
3. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terenkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunci.
Bab 2 Enkripsi dan Deskripsi
|
Mata Kuliah : Keamanan Sistem
Enkripsi dan Dekripsi
|
|
Dosen
: KURNIAWAN B. PRIANTO,SKOM.,SH.,MM
|
|
Rani Aafiyah (15115656) 4KA23
|
Monoalfabetik dan Polialfabetik
Sistem cipher substitusi adalah sebuah algoritma enkripsi dan dekripsi yang mensubstitusi unit-unit sebuah text dengan unit-unit lain berdasarkan aturan tertentu. Unit-unit ini bisa saja sebuah huruf, sepasang huruf, sebuah kata, dan sebagainya. Contoh sederhana cipher ini dapat dilihat pada gambar 1.
Pada gambar 1 di atas, plaintext di enkripsi dengan mensubstitusi tiap huruf dengan huruf setelahnya pada alphabet latin. Ini adalah salah satu contoh cipher substitusi jenis monoalfabetik.
Cipher subtitusi ini memiliki beberapa jenis, di antaranya adalah sebagai berikut:
· Monoalfabetik
· Polialfabetik
Monoalfabetik
Sistem cipher substitusi monoalfabetik memetakan tiap huruf satu per satu seperti pada contoh gambar 1 di atas, dimana tiap huruf alfabet dipetakan ke huruf setelahnya. Untuk melakukan dekripsi dari ciphertext, sebuah substitusi kebalikannya dilakukan, misalnya bila enkripsinya adalah mengganti huruf plaintext dengan huruf alfabet setelahnya, maka algoritma dekripsinya adalah mengganti huruf pada ciphertext dengan huruf alfabet sebelumnya.
Kriptografi Julius Caesar termasuk ke dalam cipher jenis ini, dimana pada kriptografinya, tiap huruf dipetakan ke tiga huruf setelahnya, A menjadi D, B menjadi E, dan seterusnya. Cipher semacam ini sering disebut dengan Caesar Cipher, dimana enkripsi dilakukan dengan menggeser huruf pada alphabet sebanyak jumlah kunci yang diberikan. Contoh lain dari cipher jenis ini adalah cipher Atbash yang sering dipakai untuk alphabet Hebrew, dimana enkripsi dilakukan dengan mengganti huruf pertama dengan huruf terakhir, huruf kedua dengan huruf kedua terakhir, dan seterusnya.
Dalam kriptografi, sandi Caesar, atau sandi geser, kode Caesar atau Geseran Caesar adalah salah satu teknik enkripsi paling sederhana dan paling terkenal. Sandi ini termasuk sandi substitusi dimana setiap huruf pada teks terang (plaintext) digantikan oleh huruf lain yang memiliki selisih posisi tertentu dalam alfabet. Misalnya, jika menggunakan geseran 3, W akan menjadi Z, Imenjadi L, dan K menjadi N sehingga teks terang "wiki" akan menjadi "ZLNL" pada teks tersandi. Nama Caesar diambil dari Julius Caesar, jenderal, konsul, dan diktator Romawi yang menggunakan sandi ini untuk berkomunikasi dengan para panglimanya.
Langkah enkripsi oleh sandi Caesar sering dijadikan bagian dari penyandian yang lebih rumit, seperti sandi Vigenère, dan masih memiliki aplikasi modern pada sistem ROT13. Pada saat ini, seperti halnya sandi substitusi alfabet tunggal lainnya, sandi Caesar dapat dengan mudah dipecahkan dan praktis tidak memberikan kerahasiaan bagi pemakainya.
Contoh
|
|
Sandi Caesar mengganti setiap huruf di teks terang (plaintext) dengan huruf yang berselisih angka tertentu dalam alfabet. Contoh ini menggunakan geseran tiga, sehingga huruf B di plaintextmenjadi E di teks tersandi (ciphertex)
|
Cara kerja sandi ini dapat diilustrasikan dengan membariskan dua set alfabet; alfabet sandi disusun dengan cara menggeser alfabet biasa ke kanan atau ke kiri dengan angka tertentu (angka ini disebut kunci). Misalnya sandi Caesar dengan kunci 3, adalah sebagai berikut:
Alfabet Biasa: ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
Alfabet Sandi: DEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZABC
Untuk menyandikan sebuah pesan, cukup mencari setiap huruf yang hendak disandikan di alfabet biasa, lalu tuliskan huruf yang sesuai pada alfabet sandi. Untuk memecahkan sandi tersebut gunakan cara sebaliknya. Contoh penyandian sebuah pesan adalah sebagai berikut.
teks terang: kirim pasukan ke sayap kiri
teks tersandi: NLULP SDVXNDQ NH VDBDS NLUL
Proses penyandian (enkripsi) dapat secara matematis menggunakan operasi modulus dengan mengubah huruf-huruf menjadi angka, A = 0, B = 1,..., Z = 25. Sandi (En) dari "huruf" x dengan geseran n secara matematis dituliskan dengan,
Sedangkan pada proses pemecahan kode (dekripsi), hasil dekripsi (Dn) adalah
Setiap huruf yang sama digantikan oleh huruf yang sama di sepanjang pesan, sehingga sandi Caesar digolongkan kepada, substitusi monoalfabetik, yang berlawanan dengan substitusi polialfabetik.
Polialfabetik
Cipher polialfabetik pertama kali dijelaskan oleh Leone Battista Alberti pada tahun 1467 sementara tableau – sebuah tabel alfabet yang dapat digunakan untuk membantu enkripsi dan dekripsi cipher polialfabetik – diperkenalkan oleh Johannes Trithemius dalam bukunya Steganographia. Pada cipher ini, beberapa alfabet cipher digunakan sekaligus yang kemudian ditulis di sebuah tabel.
Cipher dengan jenis polialfabetik yang paling terkenal adalah cipher Vigenère yang ditulis oleh Blaise de Vigenère pada abad ke-16. Cipher ini memanfaatkan tabel alfabet 26 X 26 – atau lebih dikenal dengan nama Tabula Recta – dan menggunakan kunci dan plaintext sebagai penanda posisi pada Tabula Recta untuk mendapatkan ciphertext-nya. Untuk melakukan dekripsi, kunci dan ciphertext digunakan sebagai penanda posisi untuk mendapatkan plaintext.
Untuk melakukan enkripsi dengan cipher Vigenère, sebuah kata kunci diperlukan. Kata kunci ini akan diulang sampai panjangnya sama dengan panjang plaintext dan kemudian digunakan untuk mencari huruf pengganti pada tabula recta.
Kata Kunci: BEG
Plaintext: J I D A D
Kunci: B E G B E
Dengan kunci dan plaintext tersebut, enkripsi Vigenère dapat dilakukan dengan bantuan tabula recta. Untuk mendapat huruf pertama ciphertext, kita masukkan kunci sebagai baris dan plaintext sebagai kolom. Jadi, huruf pertama ciphertext adalah K, huruf yang terdapat pada baris B dan kolom J.
Ulangi untuk huruf ciphertext berikutnya, yaitu huruf pada baris E dan kolom I, didapatkan huruf M sebagai huruf ciphertext kedua. Langkah-langkah tersebut diulangi sampai plaintext sudah habis dienkripsi dan ciphertext yang didapat adalah KMJBH.
Keistimewaan cipher ini adalah kemudahanya dalam implementasi dan kekuatannya dalam menghadapi serangan. Meskipun dapat dipakai dengan sederhana, cipher ini tergolong amat kuat untuk masanya, bahkan disebut-sebut sebagai cipher yang tidak dapat dipecahkan sampai pada abad ke-20.
Public Key Infrastructure
Public Key Infrastructure (PKI) adalah sebuah cara untuk otentikasi, pengamanan data dan perangkat anti sangkal. Secara teknis, PKI adalah implementasi dari berbagai teknik kriptografi yang bertujuan untuk mengamankan data, memastikan keaslian data maupun pengirimnya dan mencegah penyangkalan.
Teknik-teknik kriptografi yang digunakan antara lain: - fungsi hash, - algoritma enkripsi simetrik, dan - algoritma enkripsi asimetrik. Fungsi hash akan digunakan bersama dengan algoritma enkripsi asimetrik dalam bentuk tanda tangan digital untuk memastikan integritas dan keaslian berita/data berikut pengirimnya. Algoritma enkripsi simetrik digunakan untuk mengamankan data dengan cara enkripsi. Dalam PKI penggunaan algoritma enkripsi simetrik tidak langsung didefinisikan tetapi telah diimplementasikan oleh berbagai perangat lunak. Secara garis besar PKI diwujudkan dalam bentuk kolaborasi antar komponen-komponennya.
Komponen-komponen PKI antara lain: - Subscriber, - Certification Authority (CA), - Registration Authority (RA), - Sertifikat Digital. Secara praktis wujud PKI adalah penggunaan sertifikat digital. Sertifikat digital adalah sebuah file komputer yang berisi data-data tentang sebuah public key, pemiliknya (subscriber atau CA), CA yang menerbitkannya dan masa berlakunya.
PKI telah diimplementasikan dengan berbagai aplikasi seperti S/MIME, HTTPS, VPN, dll. dapat melihat fitur S/MIME pada software email yang terkenal seperti Outlook Express, Mozilla Mail/Thunderbird, dan Evolution.
Certificate Authority (disingkat menjadi CA), adalah sebuah entitas yang mengeluarkan sertifikat digital yang dapat digunakan oleh pihak-pihak lainnya. Disebut juga sebagai Certification Authority. Para CA merupakan contoh pihak-pihak yang dapat dipercayai, khususnya dalam transaksi secara online di Internet. CA merupakan salah satu ciri-ciri dari beberapa ciri-ciri lainnya dalam skema implementasi public key infrastructure (PKI).
Ada banyak CA yang bersifat komersial yang untuk menggunakan jasanya, sebuah entitas, baik itu perseorangan ataupun organisasi, harus membayar jasa mereka. Beberapa pemerintahan dan institusi pendidikan mungkin memiliki CA mereka masing-masing, dan tentu saja di sana juga banyak tersebar CA yang menawarkan jasanya secara cuma-cuma.
Kriptografi Public Key
Permasalahan dari key distribution dipecahkan oleh public key cryptography, konsep ini diperkenalkan oleh Bywhitfield Diffie dan Martin Hellman di tahun 1975.
Public key cryptography adalah suatu skema asymmetric yang menggunakan sepasang kunci untuk enkripsi: suatu kunci publik, yang mengenkrip data, dan suatu kunci privat yang bersesuaian untuk deskripsi. Anda mempublis kunci publik Anda kepada dunia sementra kunci pribadi disimpan oleh anda sendiri. Setiap orang dengan suatu salinan kunci publik Anda kemudian bisa mengenkripsi informasi yang hanya Anda dapat membaca melalui kunci privat.
Keuntungan utama dari public key cryptography adalah mengizinkan orang yang belum memiliki kesepakatan keamanan sebelumnya untuk melakukan pertukaran pesan secara aman. Kebutuhan para pengirim dan penerima untuk berbagi kunci rahasia melalui suatu jalur rahasia telah dihilangkan. Seluruh komunikasi melibatkan hanya kunci publik dan tidak ada kunci privat yang ditransmisikan atau dishare.
Beberapa contoh dari public-key cryptosystems sebagai berikut :
· Elgamal (sesuai dengan nama penemunya, Taher Elgamal)
· RSA (Nama berasal dari penemunya, Ron Rivest, Adi Shamir, and Leonard Adleman)
· Diffie-Hellman and DSA
· Algoritma tanda tangan digital (ditemukan oleh David Kravitz)
Sertifikat Digital (Digital certificates)
Salah satu permasalahan dengan sistem kriptografi kunci publik adalah memastikan bahwa pengguna harus secara kostan berhati-hati untuk memastikan bahwa pengguna melakukan enkripsi dengan benar terhadap kunci seseorang. Dalam lingkungan dimana secara bebas menukarkan kunci via server-server publik, man-in-the-middle attacks adalah serangan yang dapat terjadi pada lingkungan ini. Di serangan ini, seseorang memasang suatu kunci palsu dengan nama dan user ID dari pengguna yang akan menerima. Data terenkripsi yang diterima oleh pemilik sebenarnya adalah dari kunci palsu ini sekarang ada pada pihak yang salah.
Dalam sebuah lingkungan kunci publik, penting bahwa anda tahu untuk hal tertentu, kunci publik yang anda sedang mengenkrip data adalah benar-benar kunci publik si penerima bukan kunci publik palsu. Anda dengan mudah mengenkrip hanya kunci-kunci tersebut di mana secara fisik sudah ditangan anda. Tetapi misal anda ingin bertukar informasi dengan orang-orang yang belum anda bertemu sebelumnya, bagaimana memastikan anda memiliki kunci yang sebenarnya.
Digital certificates(sertifikat digital) atau certs (sertifikat) yang menyederhanakan tugas memastikan apakah kunci publik ini benar pemilik sebenarnya. Sebuah sertifikat adalah sebuah bentuk surat kepercayaan atau pengakuan. antara lain dari surat kepercayaan atau pengakuan adalah SIM, KTP dan surat kelahiran. Setiap sertifikat tersebut memiliki informasi yang mengidentifikasikan anda dan beberapa penetapan otorasi bahwa seseorang telah mengkofirmasi identitas anda. Beberapa sertifikat seperti pasport, merupakan konfirmasi yang cukup penting dari identitas anda yang anda tidak ingin kehilangannya, agar tidak seseorang menggunakannya untuk berpura-pura sebagai anda.
Sebuah sertifikat digital berfungsi seperti sebuah sertifikat fisik. Sertifikat digital adalah informasiyang mengandung publik key seseorang yang membantu orang lain untuk memeriksa keaslian dan keabsahan public key tersebut.
Data Enkripsi Standar (DES)
DES merupakan algoritma enkripsi yang dikembangkan oleh NIST (National Institute of Standards and Technology) sebagai standar pengolahan informasi Federal AS. Secara umum, Data Encryption Standard (DES) terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu pemrosesan kunci, enkripsi data 64 bit dan deskripsi data 64 bit, dimana satu kelompok saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Data dienkripsi dalam blok-blok 64 bit menggunakan kunci 56 bit, DES mentransformasikan input 64 bit dalam beberapa tahap enkripsi ke dalam output 64 bit. Dengan demikian, DES termasuk lama block cipher dengan tahapan pemakaian kunci yang sama untuk deskripsinya.
Sejarah DES
DES, atau juga dikenal sebagai Data Encryption Algorithm (DEA) oleh ANSI dan DEA-1 oleh ISO, merupakan algoritma kriptografi simetris yang paling umum digunakan saat ini. Sejarahnya DES dimulai dari permintaan
pemerintah Amerika Serikat untuk memasukkan proposal enskripsi. DES memiliki sejarah dari Lucifer1, enkripsi yang dikembangan di IBM kala itu. Horst Feistel merupakan salah satu periset yang mula-mulA mengembangkan DES ketika bekerja di IBM Watson Laboratory di Yorktown Heights, New York. DES baru secara resmi digunakan oleh pemerintah Amerika Serikat (diadopsi oleh National Bureau of Standards)
di tahun 1977. Ia dikenal sebagai Federal Information Processing Standard 46 (FIPS PUB46).
pemerintah Amerika Serikat untuk memasukkan proposal enskripsi. DES memiliki sejarah dari Lucifer1, enkripsi yang dikembangan di IBM kala itu. Horst Feistel merupakan salah satu periset yang mula-mulA mengembangkan DES ketika bekerja di IBM Watson Laboratory di Yorktown Heights, New York. DES baru secara resmi digunakan oleh pemerintah Amerika Serikat (diadopsi oleh National Bureau of Standards)
di tahun 1977. Ia dikenal sebagai Federal Information Processing Standard 46 (FIPS PUB46).
Aplikasi yang menggunakan DES antara lain:
• enkripsi dari password di sistem UNIX
• berbagai aplikasi di bidang perbankan
• enkripsi dari password di sistem UNIX
• berbagai aplikasi di bidang perbankan
Memecahkan DES
DES merupakan block chiper yang beroperasi dengan menggunakan blok berukuran 64-bit dan kunci berukuran 56-bit. Brute force attack dengan mencoba segala kombinasi membutuhkan 256 kombinasi atau sekitar 7x 1017 atau 70 juta milyar kombinasi. DES dengan penggunaan yang biasa (cookbook mode) dengan panjang kunci 56 bit saat ini sudah dapat dianggap tidak aman karena sudah berhasil dipecahkan dengan metoda coba-coba (brute force attack). Ada berbagai group yang mencoba memecahkan DES dengan berbagai cara. Salah satu group yang bernama distributed.net menggunakan teknologi Internet untuk memecahkan problem ini menjadi sub-problem yang kecil (dalam ukuran blok). Pengguna dapat menjalankan sebuah program yang khusus dikembangkan oleh tim ini untuk mengambil beberapa blok, via Internet, kemudian memecahkannya di komputer pribadinya. Program yang disediakan meliputi berbagai operating system seperti Windows, DOS, berbagai variasi Unix, Macintosh. Blok yang sudah diproses dikembalikan ke distributed.net via Internet. Dengan cara ini puluhan ribu orang, termasuk penulis, membantu memecahkan DES. Mekanisme ini dapat memecahkan DES dalam waktu 30 hari. Sebuah group lain yang disebut Electronic Frontier Foundation (EFF) membuat sebuah komputer yang dilengkapi dengan Integrated Circuit chip DES cracker. Dengan mesin seharga US$50.000 ini mereka dapat memecahkan DES 56-bit dalam waktu rata-rata empat (4) sampai lima (5) hari. DES cracker yang mereka kembangkan dapat melakukan eksplorasi keseluruhan dari 56-bit keyspace dalam waktu sembilan (9) hari. Dikarenakan 56-bit memiliki 216 (atau 65536) keyspace dibandingkan DES dengan 40-bit, maka untuk memecahkan DES 40-bit hanya dibutuhkan waktu sekitar 12 detik1. Dikarenakan hukum average, waktu rata-rata untuk memecahkan DES 40-bit adalah 6 detik.
Perlu diingat bahwa group seperti EFF merupakan group kecil dengan budget yang terbatas.
Perlu diingat bahwa group seperti EFF merupakan group kecil dengan budget yang terbatas.
Secara umum skema Data Encryption Standard (DES) memiliki dua fungsi input, yaitu :
Plaintext untuk dienkripsi dengan panjang 64 bit.
Kunci dengan panjang 56 bit.
Kunci dengan panjang 56 bit.
Skema dari pemrosesan DES adalah seperti gambar berikut :
Gambar 2. Gambaran Umum Algoritma DES
Proses initial permutasi (IP) Plaintext ada tiga :
Plaintext 64 bit diproses di Initial Permutasi (IP) dan menyusun kembali bit untuk menghasilkan permutasi input.
Langkah untuk melakukan perulangan kata dari plaintext sebanyak 16 dengan melakukan fungsi yang sama, yang menghasilkan fungsi permutasi substitusi, yang mana output akhir dari hal tersebut berisi 64 bit (fungsi dari plaintext dan kunci), masuk ke swap, dan menghasilkan preouput.
Preoutput diproses, dan permutasi di inverse dari initial permutasi yang akan menghasilkan ciphertext 64bit.
Langkah untuk melakukan perulangan kata dari plaintext sebanyak 16 dengan melakukan fungsi yang sama, yang menghasilkan fungsi permutasi substitusi, yang mana output akhir dari hal tersebut berisi 64 bit (fungsi dari plaintext dan kunci), masuk ke swap, dan menghasilkan preouput.
Preoutput diproses, dan permutasi di inverse dari initial permutasi yang akan menghasilkan ciphertext 64bit.
Proses dari kunci 56 bit :
Kunci melewati fungsi dari permutasi
Pergeseran kunci untuk memilih perulangan permutasi kunci sebanyak 16 kali yang menghasilkan Subkey(Ki) yang diproses dengan kombinasi permutasi.
Perbedaan dari Subkey(Ki) akan dilakukan pergeseran kunci yang menghasilkan kombinasi plaintext 64 bit dengan kunci 56 bit.
Pergeseran kunci untuk memilih perulangan permutasi kunci sebanyak 16 kali yang menghasilkan Subkey(Ki) yang diproses dengan kombinasi permutasi.
Perbedaan dari Subkey(Ki) akan dilakukan pergeseran kunci yang menghasilkan kombinasi plaintext 64 bit dengan kunci 56 bit.
Seperti cipher blok lain, DES dengan sendirinya bukanlah sarana yang aman untuk enkripsi dimana bukan digunakan dalam modus operasi. FIPS-81 menetapkan beberapa mode untuk digunakan dengan DES.
Serangan brute force – Brute force attack
Serangan brute force – Brute force attack
Untuk setiap sandi, metode yang paling dasar dari serangan brute force – mencoba setiap kemungkinan kunci pada gilirannya. Panjang kunci menentukan jumlah kemungkinan kunci, dan karenanya kelayakan pendekatan ini. Untuk DES, pertanyaan yang diajukan mengenai kecukupan ukuran kunci dari awal, bahkan sebelum itu diadopsi sebagai standar, dan itu adalah ukuran kunci kecil, daripada teoretis kriptoanalisis, yang mendiktekan kebutuhan algoritma pengganti. Sebagai hasil dari diskusi yang melibatkan konsultan eksternal termasuk NSA, ukuran kunci berkurang dari 128 bit menjadi 56 bit untuk ukuran satu chip EFF’s US $ 250.000 DES mesin retak adat yang terdapat 1.856 keripik dan kasar bisa memaksa seorang DES kunci dalam hitungan hari – foto menunjukkan sebuah papan sirkuit DES Cracker dilengkapi dengan beberapa Deep Crack chip.
Dalam dunia akademis, berbagai proposal untuk cracking DES-mesin yang canggih. Pada tahun 1977, Diffie dan Hellman mengusulkan suatu mesin seharga sekitar US $ 20 juta yang dapat menemukan kunci DES dalam satu hari. Pada 1993, Wiener telah mengusulkan kunci mesin pencari seharga US $ 1 juta yang akan menemukan kunci dalam 7 jam. Namun, tak satu pun dari proposal awal ini pernah dilaksanakan-atau, paling tidak, tidak ada implementasi yang umum diakui. Kerentanan DES praktis ditunjukkan di akhir 1990-an. Pada tahun 1997, RSA Security mensponsori serangkaian kontes, menawarkan hadiah $ 10.000 untuk tim pertama yang memecahkan pesan yang dienkripsi dengan DES untuk kontes. Kontes yang dimenangkan oleh DESCHALL Project, dipimpin oleh Rocke Verser, Matt Curtin, dan Justin Dolske, menggunakan siklus siaga ribuan komputer di seluruh Internet. Kelayakan cracking DES dengan cepat telah didemonstrasikan di tahun 1998, ketika sebuah custom DES-kerupuk dibangun oleh Electronic Frontier Foundation (EFF), sebuah kelompok hak-hak sipil dunia maya, pada biaya sekitar US $ 250.000 (lihat EFF DES cracker). Motivasi mereka adalah untuk menunjukkan bahwa DES ini dipecahkan dalam praktek maupun dalam teori: “Ada banyak orang yang tidak percaya akan kebenaran sampai mereka dapat melihat dengan mata mereka sendiri. Showing mereka sebuah mesin fisik yang dapat memecahkan DES dalam beberapa hari adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan beberapa orang bahwa mereka benar-benar tidak dapat mempercayai mereka untuk keamanan DES. ” Mesin dipaksa brute kunci dalam sedikit lebih dari 2 hari pencarian.
Satu-satunya peretas DES yg dikonfirmasi adalah mesin Copacobana dibangun pada 2006 oleh tim dari Universitas Bochum dan Kiel, baik di Jerman. Tidak seperti mesin EFF, Copacobana terdiri dari tersedia secara komersial, reconfigurable sirkuit terpadu. 120 dari Field-programmable ini gerbang array (FPGAs) dari Xilinx jenis Spartan3-1000 dijalankan secara paralel. Mereka dikelompokkan dalam 20 DIMM modul, masing-masing berisi 6 FPGAs. Penggunaan hardware reconfigurable membuat mesin yang berlaku untuk tugas-tugas memecahkan kode lain juga. Salah satu aspek yang lebih menarik dari Copacobana adalah faktor biaya. Satu mesin dapat dibangun untuk sekitar $ 10,000. Penurunan biaya oleh kira-kira faktor 25 di atas mesin EFF adalah sebuah contoh yang mengesankan bagi perbaikan terus-menerus perangkat keras digital. Menyesuaikan inflasi selama 8 tahun menghasilkan peningkatan yang lebih tinggi sekitar 30x. Sejak 2007, SciEngines GmbH, perusahaan spin-off dari dua mitra proyek dari Copacobana telah ditingkatkan dan dikembangkan Copacobana pengganti. Pada tahun 2008 mereka Copacobana RIVYERA mengurangi waktu untuk istirahat DES kurang dari satu hari, menggunakan enkripsi 128 Spartan-3 5000′s.
Enkripsi Menggunakan Algoritma RSA
Enkripsi Menggunakan Algoritma RSA
Sebagai media komunikasi umum, suatu jaringan sangat rawan terhadap penyadapan, pencurian, dan pemalsuan informasi. Proses pengiriman data pada suatu jaringan harus menjamin keamanan dan keutuhan, jika tidak, akan terjadi kemungkinan-kemungkinan seperti yang dijelaskan sebelumnya. Untuk itu salah satu cara untuk mengamankan data dari kejadian-kejadian tersebut, diperlukan penyandian terhadap data yang akan dikirim. Penyandian ini sangat penting, apalagi dalam sektor-sektor strategis seperti bisnis, perbankan, atau pemerintahan sangat memerlukan teknologi penyandian Informasi. Ilmu menyandi (kriptografi) sebetulnya adalah ilmu yang sudah dikenal bahkan semenjak jaman Julius Caesar (sebelum masehi). Ilmu ini tidak hanya
mencakup teknik-teknik menyandikan informasi, tetapi juga teknik untuk membongkar sandi.
mencakup teknik-teknik menyandikan informasi, tetapi juga teknik untuk membongkar sandi.
RSA Cipher atau kriptografi kunci publik merupakan salah satu kriptografi asimetris, dimana kunci untuk melakukan enkripsi dan dekripsi berbeda. Nama RSA diambil dari inisial orang yang menciptakannya yaitu Ron Rivest, Adi Shamir, dan Leonard Adleman, dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah Communication of ACM tahun 1977. Kekuatan utama dari RSA adalah kesulitan dalam memfaktorkan bilangan yang besar (NP Hard Problem), sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengamankan data.
Langkah-langkah dalam mengenkripsi atau mengdekripsi RSA adalah sebagai berikut :
Langkah-langkah dalam mengenkripsi atau mengdekripsi RSA adalah sebagai berikut :
1. Pilih 2 buah bilangan prima p dan q.
2. Hitung nilai n = p * q , (usahakan agar setidaknya n > 255 agar dapat mewakili seluruh karakter ASCII).
3. Hitung nilai m = (p-1) * (q-1).
4. Cari nilai e , dimana e merupakan relatif prima dari m.
5. Cari nilai d , yang memenuhi persamaan ed ≡ 1 mod m atau d = e-1mod m.
6. Kunci public (e , n) dan kunci private (d , n).
7. Fungsi enkripsi → E (ta)=tae mod n ; dimana ta merupakan karakter ke-a dari message (pesan) yang akan dienkripsi.
8. Fungsi dekripsi → D (ca)=cad mod n ; dimana ca merupakan karakter ke-a dari ciphertext yang akan didekripsikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)









